Saturday, March 21, 2020

BISNIS RITEL









Kata Ritel berasal dari bahasa Prancis “Retailler” berati memotong atau memecahkan sesuatu. Sedangkan di kamus besar Bahasa Indonesia, eceran berati secara satu-satu; sedikit-sedikit (tentang penjualan atau pembelian barang); ketengan.
Ritel/eceran adalah sebuah usaha yang menjalankan penjualan barang atau jasa secara eceran atau satuan. Lalu produknya langsung ditujukan kepada konsumen untuk memenuhi kebutuhan pribadinya bukan sebagai produk yang akan di jual kembali atau di proses sebagai bahan membuat produk lain. Istilah lain yang lebih sederhana dapat juga disebut sebagai penjual eceran, contoh diantaranya seperti minimarket atau swalayan.
Usaha eceran atau ritel ini tidak terbatas pada penjualan barang seperti sabun, minuman atau deterjen, tetapi juga layanan jasa seperti potong rambut atau sewa mobil. Usaha ini pun tidak harus selalu dilakukan di toko, tapi bisa juga dilakukan melalui telepon atau internet yang disebut dengan eceran/ritel non-toko.

Usaha ritel terbagi 2 :
1. Usaha ritel tradisional
Sederhana, tidak terlalu luas, barang yang dijual tidak terlalu banyak jenisnya, system pengelolaan/manajemen sederhana, tidak menawarkan kenyamanan saat berbelanja, dan ada tawar menawar harga, produk yang dijual tidak dipajang terbuka.
2. Usaha ritel modern
Tempat luas, barang yang dijual banyak jenisnya, system manajemen yang di kelola dengan baik, menawarkan kenyamanan saat berbelanja, harga tidak bisa ditawar, pelayanan mandiri, pemajangan produk di rak terbuka.

Jenis-jenis usaha ritel :
a. Skala besar dan kecil
Kelas usaha yang besar sanggup melayani konsumen yang banyak.  Bentuk fisik bangunan yang digunakan rata-rata cukup luas sehingga dapat menampung barang dagangan dalam jumlah banyak. Contoh : minimarket, swalayan, hypemarket, department store.
Kelas usaha yang kecil cakupan usahanya terbatas untuk melayani konsumen di sekitarnya saja sehingga tidak bisa dibandingkan dengan usaha ritel besar. Contoh : warung sembako,PKL.
b. Toko dan non-toko
Berdasarkan cara pemasarannya, ada 2 jenis yang terbentuk yaitu :
Toko (In store retailing) melakukan trankasasi penjualan didalam suatu bangunan seperti toko atau warung.
Non-toko (Non store retailing) memasarkan produknya secara langsung ditawarkan kepada konsumen. Contoh : lewat telepon, email atau lewat vending machine.
c. Usaha ritel independent, waralaba, corporate
Berdasarkan kepemilikan :
Ritel independent merupakan usaha yang dimilki sendiri tanpa kerja sama pihak lain.
Waralaba merupakan usaha yang dijalankan seorang individu namun berjalan berdasarkan ketentuan perusahaan pemilik merk.
Corporate merupakan usaha yang dibangun oleh badan usaha.
d. Ranted good service, owned good service, non good service
Ranted good service merupakan usaha yang bergerak dibidang persewaan barang, contoh : tenda, mobil.
Owned good service merupakan usaha yang menawarkan jasa perbaikan, resparasi, atau modifikasi.
Non good service merupakan usaha yang menawarkan jasa saja, contoh : sopir, barbershop, PRT.

Tujuan penjualan eceran (ritel) :
Menurut Weits dkk, 2007:4
• Menciptakan tersedianya, pilihan akan kombinasi sesuai yang diinginkan konsumen.

• Memberikan penawaran produk dan jasa pelayanan dalam unit yang cukup kecil sehingga memungkinkan konsumen memenuhi kebutuhannya.
• Menyediakan pertukaran nilai tambah dari produk “ready exchange of value”.
• Mengadakan tranksasi dengan konsumen.
Menurut Sudjana “2005:117”
o Perantara antara distributor dengan konsumen akhir.
o Penghimpunan berbagai kategori jenis barang yang menjadi kebutuhan konsumen.
o Tempat rujukan untuk mendaptkan barang yang dibutuhkan konsumen.
o Penentu eksistensi barang dari manufaktur pasar konsumen.

Fungsi penjualan eceran (ritel)
1. Menyediakan berbagi jenis produk dan jasa.
2. Memecah “breaking bulk”.
3. Penyimpanan persediaan.
4. Penyedia jasa.
5. Meningkatkan nilai produk dan jasa.

Jenis-jenis penjualan eceran (ritel)
Pedagang eceran yang memiliki toko “Store Retailers” dibagi menjadi beberapa jenis menurut “Kotler dan Armstrong, 2003:216”
a. Toko barang khusus “Specialty Store”
Lini produk yang sempit dengan keragamn yang ada dalam toko pakaian adalah toko lini tunggal, toko pakaian pria adalah toko lini terbatas dan toko kemeja pesanan pria adalah toko yang sangat khusus.
b. Toko serba ada “Departemen Store”
Beberapa lini produk biasanya pakaian, perlengkapan rumah dan barang kebutuhan keluarga dengan masing-masing lini yang ditempatkan sebagai bagian tersendiri dikelola pembeli khusus atau pedagang khusus.
c. Pasar swalayan “Supermarket”
Usaha yang relative besar, berbiaya rendah, bermarjin rendah, bervolume tinggi, swalayan yang dirancang untuk memenuhi semua kebutuhan untuk makanan, sarana mencuci dan produk keluarga.
d. Toko kenyamanan “Convenience Store”
Toko yang relative kecil dan terletak dekat daerah pemukiman menjual lini terbatas produk kenyamanan dengan tingkat perputaran yang tinggi dan harga yang sedikit lebih tinggi.
e. Toko disko “Discount Store”
Barang dagangan standar yang dijual dengan harga yang lebih murah dengan marjin yang lebih rendah dan volume yang lebih tinggi.
f. Pengecer potongan harga “Off-Price Retailer”
Barang dagangannya yang dibeli dibawah harga pedagang besar biasa dan dijual dibawah harga eceran.
g. Gerai pabrik “Factory Outlet”
Dimiliki dan dijalankan produsen dan biasanya menjual barang yang berlebihan tidak diproduksi lagi atau tidak biasa.
h. Pengecer potongan harga independen “Independent off-priceretailer”
Dimiliki dan dijalankan pengusaha atau divisi perusahaan eceran yang lebih besar.
i. Klub gudang atau klub pedagang besar “Warehouse clubs atau Wholesale clubs”
Menjual pilihan terbatas jenis produk kebutuhan pokok, perlengkapan rumah tangga, pakaian bermerek dan berbagai jenis barang lain dengan diskon yang sangat besar bagi anggota yang membayar iuran keanggotaan tahunan.
j. Toko besar “Superstore”
Ruang penjualaan sekitar 35.000 kaki persegi yang ditujukan untuk memenuhi seluruh kebutuhan konsumen untuk jenis produk makanan dan non-makanan yang dibeli rutin.

Pedagang eceran yang tidak memiliki toko atau disebut pengecer tanpa toko “Non-Store Retaillers”
• Penjualan langsung “Direct Selling”
Tidak termasuk penjualan dari bisnis ke bisnis, penjualan yang dilakukan oleh para wira-niaga langsung ke pemakai akhir.
• Penjualan satu-satu “One to One Selling”
Dilakukan oleh wira-niaga dengan mengunjungi tempat tinggal konsumen satu persatu dan berusaha mendapatkan pesanan pembelian.
• Penjualan satu ke banyak “One to Party Selling”
Wira-niaga akan datang ke rumah seorang konsumen dan mengundang teman atau tetangganya untuk melihat demonstrasi produk.
• Pemasaran jaringan “Network Marketing-MLM”
Perusahaan memilih usahawan untuk berperan sebagai distributor yang akan memilih anggota baru sebagai agen. Para agen akan memilih orang lagi untuk menjual produk perusahaan ke pembeli potensial.
• Pemasaran langsung “Direct Marketing”
Dimulai dari katalog surat pos, atau telemarketing menggunakan telepon, bisa juga melalui TV home shopping”.
• Mesin penjual otomatis “Automatic Vending”
Memiliki keunggulan seperti penjualan 24 jam sehari serta mudah ditemukan di banyak tempat strategis.
• Jasa pembelian “Buying Service”
Pengecer tanpa toko yang melayani konsumen khusus seperti sekolah, rumah sakit atau lembaga pemerintah. Anggota organisasi tersebut dapat menjadi anggota jasa pembelian dan mereka boleh membeli berbagai produk dengan harga diskon.

Faktor yang mempengaruhi keberhasilan ritel 
1. Lokasi usaha 
Harus terlihat (visible), lalu lintas yang padat (heavy traffic), arah pulang ke rumah (direction to home), fasilitas umum (public facilities), biaya akuisisi (acquisition cost), peraturan/perizinan (regulation), akses (access), infrastruktur  (infrastructure), potensi pasar yang tersedia (captive market), legalitias (legality).
2. Harga yang tepat
3. Suasana toko
Melalui eksterior toko yang meliputi keseluruhan bangunan fisik yang bisa dilihat dari bentuk bangunan, pintu masuk, tangga, dinding, jendela dan sebagainya yang membentuk citra keseluruhan tampilan toko.
Melalui interior toko yang meliputi estetika toko, desain ruangan, dan tata letak toko seperti penempatan barang, kasir dan perlengkapan lain.

Peran ritel dalam memberikan kebutuhan ekonomis bagi pelanggan melalui 5 cara
1. Memberikan suplai/pasokan barang dan jasa pada saat dan ketika dibutuhkan konsumen dengan sedikit atau tanpa penundaan. Biasanya berlokasi dekat rumah konsumen.
2. Memudahkan konsumen dalam memilih atau membandingkan bentuk, kualitas dan barang serta jasa yang ditawarkan. 
3. Menjaga harga jual tetap rendah agar mampu bersaing dalam memuaskan konsumen.
4. Membantu meningkatkan standar hidup masyarakat.
5. Adanya usaha ini juga memungkinkan produksi besar-besaran.

Kelebihan dan kekurangan usaha ritel
Kelebihan : modal yang diperlukan cukup kecil namun keuntungan yang diperoleh cukup besar, lokasi strategis, hubungan antara peritel dengan pelanggan cukup dekat karena adanya komunikasi 2 arah.
Kekurangan : keahlian dalam mengelola toko ritel berskala kecil kurang diperhatikan oleh peritel, administrasi kurang atau bahkan tidak diperhatikan peritel, promosi usaha tidak dapat dilakukan dengan maksimal.



https://www.dosenpendidikan.co.id/pengertian-ritel/
https://infopeluangusaha.org/pengertian-bisnis-ritel-jenis-serta-contohnya/

BISNIS RITEL

Kata Ritel berasal dari bahasa Prancis “ Retailler ” berati memotong atau memecahkan sesuatu. Sedangkan di kamus besar Bahasa Ind...